Buku Catatan Zakat untuk Pekerja Lepas: Cara Merapikan Penghasilan yang Naik Turun

Pegawai bergaji tetap punya urusan zakat yang relatif mudah, karena angkanya sama setiap bulan dan tanggal gajiannya jelas. Penulis lepas, desainer, guru les, pengemudi ojek daring, dan pedagang kecil tidak seberuntung itu. Bulan ini ramai, bulan depan sepi, dan pertanyaan "apakah saya sudah wajib zakat" sering tidak pernah terjawab karena tidak ada catatan yang bisa dibaca. Tulisan ini membahas satu hal saja, yaitu cara membuat catatan sederhana supaya pertanyaan itu bisa dijawab dengan angka. Ketentuan yang dipakai merujuk pada ulasan zakat penghasilan di Ngajia, yang bersandar pada penjelasan BAZNAS RI dan NU Online.

Mengapa penghasilan tidak tetap butuh catatan

BAZNAS sendiri mengakui bahwa ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan yang sama maupun berbeda setiap bulannya. Jadi pekerja lepas bukan kasus pinggiran yang terlupakan. Aturannya sudah tersedia, hanya saja aturan itu membutuhkan satu bahan yang jarang dimiliki pekerja lepas, yaitu angka pemasukan selama setahun penuh.

Tanpa catatan, yang terjadi biasanya satu dari dua hal. Ada yang merasa penghasilannya kecil lalu tidak pernah menghitung sama sekali, padahal setelah dijumlahkan setahun totalnya bisa saja melewati nisab. Ada juga yang menzakati satu pembayaran besar dengan rasa lega, lalu tidak tahu bagaimana menghitung bulan-bulan sesudahnya. Keduanya berawal dari masalah yang sama, yaitu angka yang tersebar di mutasi rekening, dompet digital, dan ingatan. Buku catatan menyelesaikan masalah itu tanpa alat yang rumit.

Tiga angka yang perlu dihafal lebih dulu

Sebelum membuka buku catatan, pegang dulu tiga angka. Pertama, kadar zakat penghasilan adalah 2,5 persen. Kedua, nisabnya setara 85 gram emas per tahun. Ketiga, untuk tahun 2026 BAZNAS menetapkan nilai nisab itu sebesar Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan, berdasarkan SK Ketua BAZNAS Nomor 15 Tahun 2026.

Angka rupiah itu berlaku untuk tahun 2026 dan akan ditinjau lewat SK baru pada periode berikutnya. Karena itu, tulis angka nisab di halaman pertama buku catatan beserta tahunnya, lalu perbarui setiap awal tahun. Jangan memakai angka tahun lalu untuk menghitung tahun ini. Kalkulator zakat Ngajia meminta harga emas per gram dan angka bawaannya hanya contoh, jadi hasil nisab di layar bisa berbeda kalau harga yang dimasukkan berbeda. Untuk membandingkan total tahunan, pegangan paling aman tetap angka dalam SK BAZNAS yang berlaku.

Bentuk buku catatan yang cukup

Satu halaman per tahun sudah memadai. Buat dua belas baris, satu baris untuk tiap bulan, lalu buat empat kolom. Kolom pertama berisi nama bulan. Kolom kedua berisi total pemasukan bulan itu dari pekerjaan. Kolom ketiga berisi jumlah berjalan sejak awal periode. Kolom keempat berisi zakat yang sudah ditunaikan pada bulan itu, kalau ada, lengkap dengan nama lembaga penerimanya. Buku tulis biasa, lembar sebar di ponsel, atau catatan di aplikasi mana pun sama baiknya, asalkan satu tempat dan tidak berpindah-pindah.

Isi baris itu pada tanggal yang sama setiap bulan, misalnya tanggal satu. Membuka mutasi rekening sebulan sekali hanya butuh beberapa menit, sedangkan menyusun ulang dua belas bulan di akhir tahun bisa memakan waktu seharian dan hasilnya kurang bisa dipercaya. Pisahkan juga rekening kerja dari rekening rumah tangga kalau memungkinkan, karena uang titipan klien, pengembalian dana, dan kiriman keluarga bukan penghasilan dari pekerjaan dan tidak perlu ikut dijumlahkan.

Membaca catatan pada bulan yang ramai

Aturan pertama berlaku pada bulan ketika pemasukan mencapai nisab bulanan. Zakat boleh ditunaikan tiap bulan bila penghasilan bulanan sudah mencapai seperdua belas nisab, dan rumus yang dituliskan BAZNAS adalah 2,5 persen dikali jumlah penghasilan dalam satu bulan. Kalau bulan Mei seorang desainer menerima Rp12.000.000, angka itu sudah di atas Rp7.640.144, dan 2,5 persennya adalah Rp300.000.

Sebagian pekerja lepas memilih menunaikan bagian seperti itu pada bulan pemasukannya, karena uangnya memang sedang ada. Bila itu yang dipilih, tuliskan di kolom keempat. Catatan ini berguna ketika akhir periode tiba, supaya Anda tahu persis apa yang sudah keluar dan tidak menghitung dua kali. Bagaimana mencampur pembayaran bulanan dengan perhitungan tahunan secara rinci tidak dibahas pada rujukan yang dipakai tulisan ini, jadi kalau pola Anda campuran, tanyakan cara yang tepat kepada amil resmi.

Membaca catatan pada bulan yang sepi

Aturan kedua berlaku ketika penghasilan satu bulan tidak mencapai nisab. BAZNAS menjelaskan, penghasilan selama satu tahun dikumpulkan atau dihitung totalnya, lalu zakat ditunaikan bila totalnya sudah cukup nisab. Dengan kata lain, bulan yang sepi tidak otomatis berarti bebas dari hitungan. Bulan itu tetap masuk ke jumlah berjalan di kolom ketiga.

Dalam jalur akumulasi setahun ini, BAZNAS menulis bahwa zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab. Sementara itu, soal dasar hitungan secara umum ada tiga wacana yang dikenal ulama, yaitu dari penghasilan kotor, sesudah dipotong biaya operasional kerja, dan sesudah dikurangi kebutuhan pokok. NU Online menyimpulkan bahwa mengeluarkan dari penghasilan kotor lebih utama, sambil tetap mencatat bahwa sebagian ulama membolehkan pengurangan lebih dahulu. Maka tuliskan di halaman pertama wacana mana yang Anda ikuti, supaya hitungan Anda konsisten dari tahun ke tahun.

Contoh hitungan di akhir periode

Misalkan seorang penulis lepas (nama dan angkanya sekadar ilustrasi) mencatat pemasukan setahun sebesar Rp88.000.000. Angka itu masih di bawah nisab tahunan Rp91.681.728, sehingga menurut jalur akumulasi ia belum sampai pada kewajiban zakat penghasilan untuk periode tersebut, walaupun ada beberapa bulan yang terasa ramai. Sedekah tentu tetap terbuka, tetapi itu perkara yang berbeda dari kewajiban zakat.

Sekarang misalkan totalnya Rp96.000.000. Angka ini melewati nisab, sehingga zakatnya Rp96.000.000 dikali 2,5 persen, yaitu Rp2.400.000. Perhatikan satu kesalahan yang sering terjadi di sini. Kadar 2,5 persen dihitung dari seluruh jumlah, bukan hanya dari kelebihannya di atas nisab. Kalau yang dihitung cuma selisih Rp4.318.272, hasilnya hanya sekitar Rp107.957, dan itu keliru jauh. Untuk memeriksa hitungan Anda, masukkan angkanya ke kalkulator lalu bandingkan dengan catatan.

Kalau Anda berdagang, bukan menjual jasa

Pedagang perlu berhati-hati pada satu titik. Bila yang Anda kelola adalah modal dan stok dagangan, bukan sekadar upah jasa, kelompoknya bisa jatuh ke perniagaan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 memang mencantumkan perniagaan sebagai kelompok zakat mal yang berdiri sendiri, terpisah dari pendapatan dan jasa. Jadi omzet toko tidak bisa begitu saja dimasukkan ke kolom kedua buku catatan ini.

Banyak orang berada di perbatasan dua kelompok itu, misalnya penjahit yang juga menjual kain, atau tukang servis yang juga menjual suku cadang. Untuk kasus begini, pisahkan dulu catatan jasa dari catatan dagangan, lalu bawa keduanya saat bertanya kepada amil resmi. Pertanyaan yang disertai angka akan jauh lebih mudah dijawab daripada pertanyaan yang hanya berdasarkan perkiraan.

Cicilan dan utang di buku catatan

Pekerja lepas sering memegang cicilan laptop, kamera, atau kendaraan kerja. Pada wacana neto yang diulas NU Online, utang disebut sebagai bagian dari kebutuhan pokok yang boleh dikurangkan lebih dahulu. Pada wacana bruto, zakat dikeluarkan lebih dahulu tanpa potongan apa pun. Karena jawabannya bergantung pada wacana yang diikuti, catat cicilan pada kolom tersendiri dan jangan langsung dikurangkan dari pemasukan. Dengan begitu angka aslinya tetap terbaca, dan Anda bisa menanyakannya kepada amil atau ustadz setempat bila beban utangnya besar dan benar-benar memengaruhi status Anda sebagai muzaki.

Menyimpan bukti setoran

Kolom keempat sebaiknya disertai arsip bukti setoran. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 22 menyatakan zakat yang dibayarkan kepada BAZNAS atau LAZ dikurangkan dari penghasilan kena pajak, dan Pasal 23 mewajibkan lembaga tersebut memberikan bukti setoran. Yang berkurang adalah dasar penghasilan kena pajak, bukan jumlah pajak yang harus dibayar. Bagi pekerja lepas yang melaporkan pajaknya sendiri, satu map berisi bukti setoran setahun akan sangat membantu.

Perlu diingat juga bahwa Ngajia tidak menghimpun dan tidak menyalurkan zakat. Kalkulatornya berhenti sebagai alat bantu, dan penyalurannya Anda lakukan langsung ke lembaga amil zakat resmi pilihan Anda.

Satu kebiasaan kecil yang menutup semuanya

Setiap ada pembayaran masuk, sisihkan 2,5 persennya ke rekening atau amplop terpisah sebelum uang itu terpakai. Ini bukan ketentuan fikih, melainkan cara praktis supaya saat akhir periode tiba dananya sudah siap dan zakat tidak terasa seperti tagihan besar yang datang mendadak. Kalau ternyata total setahun tidak mencapai nisab, uang yang tersisih tetap milik Anda dan bisa dipakai untuk keperluan lain, termasuk sedekah.

Satu halaman dua belas baris memang terlihat sepele, tetapi halaman itulah yang mengubah pertanyaan samar menjadi angka yang bisa dibawa kepada amil. Untuk ketentuan lengkapnya, termasuk dalil, pandangan ulama, dan waktu menunaikan, bacalah ulasan zakat penghasilan di Ngajia. Menjelang Idul Fitri, kewajiban yang berbeda juga perlu disiapkan, dan rinciannya ada pada panduan zakat fitrah.